Berjuang Untuk Orang Kelaparan
Suasana tongkrongan warung kopi kang Daud tetap sejuk dan tenang seperti biasanya, walaupun warung kopi kang Daud hanya serangkaiaan kayu-kayu bekas yang sudah lama dan lapuk, dengan sedikit sentuhan klasik. Tetapi anak-anak sangat betah nonkrong di warung itu, malah sempat meresmikan warung kang Daud sebagai kampus kedua mereka setelah kampus pendidikan. Sebab dari warung itulah, mereka semua belajar banyak tentang hidup dan kehidupan. Di warung itu juga anak-anak TD alias Tongkrongan Daud, banyak terbuka pikirannya khususnya tentang kenyataan hidup, masalah-masalah kehidupan masyarakat. Mereka juga banyak kenal dengan orang-orang yang bebeda-beda dan beraneka ragam. Seperti, Preman, Pengemis, Pedagang Kaki Lima, Tukang Parkir, Masyarakat Umum, Polisi sampe Tukang Copet, Tukang rampok, Anak Jalanan, Ustad pokoknya macam-macam deh!. Yang setiap orang dari mereka banyak masalah, pelajaran, dan pandangan hidup yang dapat di ambil, untuk menentukan dan memahami kehidupan yang sebenarnya.
Anak-anak juga suka membuka forum diskusi. Biasanya masalah-masalah yang di omongin seputar kehidupan, kampus, sosial, politik, ekonomi, budaya, pendidikan, hankam, musik, wanita, cinta bahkan agama. Pokoknya semua permasalahan yang lewat dalam kehidupan anak-anak tongkrongan Daud, baik yang di baca, di dengar, dan di lihat pasti semuanya pernah di diskusikan dalam forum mereka. Pokoknya visinya cuma satu yaitu, bagaimana mereka dapat menjawab LJK alias Lembar Jawaban Kehidupan.
Biasanya anak-anak tongkrongan Daud kalau lagi buka forum, mereka kalau lagi diskusi suka sambil ngopi dan merokok. Dan gaya-gaya mereka udah seperti politikus-politikus dan ahli pikir-ahli pikir, yang kerjaan nya mikirin negeri ini yang tidak mau bener-bener. Dan kalau udah cungur-cungur anak-anak tongkrongan Daud berkoar-koar kayak kucing kecebur got..., pokok nya udah sok profesor, sok insinyur, sok pinter, pokok nya sok tau walau pun sepertinya mereka gak tau. Tetapi kalau di pikir-pikir omongan mereka ada benernya juga sih.
Kalau kita ada disana ketika mereka pada diskusi, bagaikan di gunung kalau turun kabut..., pokoknya dimana-mana asep doang..., warung kang Daud kayak kebakaran. Apalagi yang namanya si Achongs udah kurus, kriting, pake kacamata, paling ngebul lagi..., kalau ngerokok kayak kereta api. Karena itu anak-anak memberi gelar lokomotif bergerak, walaupun dia sebenarnya pemerhati, cewek-cewek yang kebetulan lewat dijalan raya, atau lagi ngetem di dalam angkot. Ada lagi yang namanya Jawax, orang nya baek, tapi kadang-kadang suka so cool alias jaga image, bikin anak-anak pada gemes pengen nyubit pipi nya..., sambil teriak “Bayi bagong...Bayi bagong, Bayi badak...Bayi badak”. Tetapi jangan kuatir, dia rajin ngebersihin muka kok and sikat gigi sebelum tidur. Nah ini ada anak yang paling aneh lagi di Warung kopi kang Daud, nama nya Ferly. Dia raja kopi, kulit nya pun sama hitam nya dengan kopi, dia tuh lugu alias lutung gunung, walau begitu dia tuh imut loh..., alias item mutlak. Tetapi yang jelas dia manis banget kalau di guyur gula satu karung.
Ada lagi Kojay, namanya saja singkatan dari koteka jaya, walaupun dia bukan orang Irian Jaya asli, tetapi tingkah laku nya mirip banget dengan suku Asmat yang ada di Irian Jaya. Buktinya kalau saraf nya lagi putus dia suka joget-joget sendirian kayak orang kesurupan, walau begitu dia tuh play boy, ceweknya banyak, tetapi bingung juga...?, Walau play boy di antara anak-anak yang sering putus cinta, dia tuh termasuk orang yang sering putus cinta, biasa nya seminggu dua kali yaitu, hari senin dan hari kamis, kayak puasa saja. Aniway anak-anak juga sempet di ajarin ilmu play boy sama dia, dan tebukti manjur banget jarang ada yang meleset.
Trus ada Menyengs orang nya supel dan cerewet, gelarnya saja penguasa cungur beruk, pernah gak lihat beruk kalau lagi ngomong...?, pasti mirip dia.
Adalagi Kubil dia tuh anak pesantren rajin mengaji, dan sholat. Jago banget kalau bicara masalah-masalah agama, tetapi akhirnya dia ter dampar di warung kopi kang Daud, karena dia berhasil menemukan suatu pencerahan hidup yang tak pernah dia temukan di tempat lain. Kalau ceweknya ada Firda kecengan Gotapi di kampus nya, wanita ber jilbab itu akhirnya menjadi tongkrongan Daud karena simpati dengan perjuangan anak-anak tongkrongan Daud di dalam membela rakyat. Itulah singkat cerita profil anak-anak tongkrongan Daud yang belum sempet muncul dalam cerita-cerita terdahulu, yang jelas mereka adalah anak-anak yang sering nongkrong di warung kopi kang Daud. Warung yang sangat sederhana dan klasik, walaupun lokasinya berada di pusat kota, deket Mall, Kampus, dan Masjid gede. Tapi tempatnya tetap sejuk dan tenang, sebab berada di bawah pohon yang besar dan rindang.
Mereka lah teman-teman Gotapi yang sering bikin heboh se-antero Jagat, kalau lagi mengeluarkan gagasan baru tentang kehidupan. Realitas yang terjadi di masyarakat, yang penuh dengan kemelut konflik, dan tidak pernah kunjung reda.
Ferly pun mulai membuka wacana di warung kopi kang Daud.
“Coba kita lihat..., apakah bener Pemerintah ingin memberantas kemiskinan. Tapi kok, jumlah orang miskin di Indonesia setiap harinya makin bertambah banyak!,” ungkap Ferly mencoba memancing anak-anak yang lagi pada bengong.
Akhirnya Jawax pun kepancing juga, untuk bersuara.
“Sekarang bagaimana mau memberantas kemiskinan, utang Negara kita saja semakin hari semakin bertambah. Trus ekonomi kita yang hancur gak karuan, di tambah lagi orang-orang di Pemerintahan hanya mementingkan diri sendiri!,” ucap Jawax membalas umpan balik dari Ferly.
Tetapi Ferly juga gak kehilangan bola.
“Tapi gak bisa seenaknya gitu dong..., soal nya rakyat yang kelaparan merupakan tanggung jawab pemerintah. Mereka gak bisa seenaknya saja melepaskan tanggung jawab. Dengan membiarkan mereka terlantar seperti ini!,” balas Ferly menjawab komentar dari Jawax, sambil menguyup kopi yang baru dia pesan dari kang Daud.
Dan Gotapi pun akhirnya bergabung dalam forum tersebut.
“Betul..., sebenar nya kalau di hitung-hitung berapa banyak sih...?!, harta-harta para pejabat yang ada di Indonesia baik pejabat-pejabat yang ada di pusat maupun di daerah. Coba mereka-mereka semua memiliki kesadaran untuk membantu kesusahan hidup rakyat kecil, mungkin hal yang terjadi tidak seperti sekarang ini. Tidak ada kesenjangan pada masyarakat, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin tidak akan sejauh saat ini. Karena itu, kesombongan hati dan keangkuhan diri para pejabat dan orang-orang kaya harus di hilangkan dan di hancurkan. Serta rasa cinta untuk membantu orang-orang miskin dan kelaparan harus di tumbuhkan!,” ucap Gotapi ikut nimbrung dalam pembicaraan ngalor kidul, dalam forum diskusi yang di buka oleh Ferly di warung kopi kang Daud sore itu.
***
Di lain tempat Deni salah satu personel setia tongkrongan Daud baru beres kuliah, dan seperti biasa kalau selesai kuliah pendidikan, yah... kuliah lagi di kampus kedua yaitu warung kopi tongkrongan Daud.
Tetapi hari itu Deni mendapat kendala, hati Deni pun berguman-guman gak karuan.
“Waduh..., warung kang Daud masih jauh. Tapi perut gua laper banget, ah..., dari pada pingsan. mending gua mampir dulu, di kantin samping kampus. Gua pengen beli Indomie sambil ngeceng, kali–kali aja ada cewek cakep, kan lumayan itung–itung cuci mata!,” ucap batin Deni ngomong sembarangan.
Sampai di kantin, suasana lumayan rame. Ada juga kumpulan cewek–cewek yang lagi ngebaso dan beberapa anak muda yang gayanya aneh banget. Kayaknya sih!, udah satu bulan kagak mandi.
“Wah–wah kebetulan nih!,” ucap Deni pelan sambil masuk, dan memesan Indomie kepada penjaga yang ada di kantin.
“Ibu mie nya satu yah!,” ucap Deni so akrab.
“Satu apa?, satu gentong, satu baskom, atau satu panci!,” asal jawab si Ibu yang lagi motongin bawang dan cabe.
“Makasih Bu..., Satu mangkok saja. Soal nya perut saya gak muat mie satu baskom, entar yang ada malah bucat lagi!,” timpa Deni nyerocos.
“Mau mie apa?, Mie Goreng, Mie Rebus, Mie Kuah, Trus Mie nya panas, anget atau setengah dingin!,” tanya lagi si Ibu Yang tidak kalah nyerocosnya.
Batin Deni pun geram.
“Ini si Ibu kurang ajar amat..., nanya–nanya mulu dari tadi!,” ungkap batin nya emosi.
Tetapi hati nurani Deni berusaha untuk bersabar.
“Udah Den..., tenang jangan kepancing sama omongan si Ibu itu. Soal nya ucapan nya ada benernya juga!,” ucap Malaikat yang ada di dalam hatinya.
Akhirnya Deni pun mencoba bersikap ramah.
“Mie rebus saja Bu..., pake telor!,” Ucap Deni tenang.
“Telornya di rebus, di satuin, mateng, atau setengah mateng. Trus mau mie apa?, Sarimie, Super-mie, Indomie, mie Barokah, mie Duo atau mau mie apaan. Dan ada lagi pake cabe atau enggak, kalau pake cabe, mau cabe apaan?, cabe Rawit, cabe Merah, atau cabe Keriting!,” tambah panjang lagi penjelasan si Ibu kaya burung Kutilang.
Udah..., bagi Deni tidak ada toleransi lagi, dirinya udah naik pitam. Tidak ada kata–kata lagi kecuali kata–kata makian untuk si Ibu.
Sambil emosi suaranya agak naik–naik turun.
“Pokok nya terserah Ibu, mau di apain kek! Mie nya. Pokok nya yang penting saya bisa makan titik!,” jawab Deni sewot.
“Yee..., gitu saja marah!,” balas Si Ibu sambil ketawa ngecengin Si Deni.
“Biarin..., Sewot juga yang penting imut!,” balas Deni gak mau kalah, sampai–sampai suaranya ter dengar se isi kantin.
Dan ternyata ucapan Deni itu membuat beberapa orang terganggu.
“Idih..., PD (Percaya Diri)!,” ucap salah seorang Cewek yang risih banget ngedenger kata–kata “imut” yang keluar dari mulut Deni.
Tapi untuk yang ini Deni tidak bisa membalas, tetapi dia cuma bisa senyum untuk nunjukin bahwa dia tuh bener–bener imut, selain itu Cewek nya cantik banget, apalagi kalau lagi makan.
Kemudian Deni pun mencari–cari tempat strategis Untuk makan and refresing, menyegarkan fikiran yang mumet. Ternyata tempat yang cocok ada di samping Cowok yang pakaian nya lusuh, tapi lumayan rapi. Tampa pikir panjang, dia pun segera beranjak kesana.
Setelah duduk, Deni pun membakar sebatang rokok. Dengan santai matanya pun mulai mencari–cari pemandangan yang indah dan segar, sambil menunggu kiriman Indomie yang baru saja di pesan.
Lagi enak–enak ngeliatin cewek–cewek yang pada hilir-mudik kaya setrikaan, tau–tau punggung Deni ada yang nepuk, Deni pun menoleh. Ternyata yang menepuk adalah Cowok yang berpakaiaan lusuh yang berada di samping nya.
“Loe kuliah di falkutas apaan?,” tanya suara dari ujung sono, maksudnya lelaki lusuh tadi.
“Hukum!,” jawab Deni singkat.
“Kalau gitu loe mau jadi para penegak hukum dong..., tetapi jangan kayak pejabat Hukum sekarang yah..., Sebab mereka hanya peduli pada uang. Yang banyak duitnya pasti mendapat keadilan, sedangkan rakyat kecil cuma mencuri motor saja sampai–sampai di bakar hidup–hidup, mereka cuek saja!,” ucap lelaki lusuh tadi.
“Iya...!,” jawab Deni setuju dengan santai.
“Pokoknya para pejabat sekarang enggak ada yang bener, semua KKN. Artinya semua nya harus di berantas abis jangan sampe nyisa, kita satu kan rakyat, kita harus ada kan revolusi. Kita perjuangkan kaum buruh dan para petani yang selama ini menderita dan tidak dapat keadilan dari Pemerintah!,” sedikit orasi dari laki–laki lusuh tersebut.
Kemudian dia terdiam sejenak dan mulai berbicara lagi.
“Loe pesan Indomie?,” tanya Lelaki tersebut pada Deni.
“Kok loe tahu!,” ucap Deni heran.
“Tuh Udah datang..., makan dulu deh!,” ucap lelaki tersebut.
Kemudian setelah itu Deni menerima pesanannya.
“Sorry nih..., ngobrolnya tunda dahulu. Soal nya perut gua laper banget!,” ucap Deni Sambil mulai melahap hidangan yang ada di depannya.
Lelaki lusuh itu pun kembali terdiam, sambil mengisap rokok nya. Matanya pun menerawang jauh seakan–akan memikirkan sesuatu yang tidak pernah kunjung selesai.
Sambil makan mie rebusnya, Deni pun memulai pembicaraan nya kembali.
“Ngomong–ngomong siapa nama loe?,” tanya Deni pada laki-laki tersebut.
Laki–laki tersebut pun menjawab.
“Nama gua Darsono. Tempat kuliahnya sama, cuma jurusan nya berbeda, gua ngambil sejarah!,” jawab laki–laki lusuh tersebut dengan jelas dan lugas.
“Darsono..., gua denger dari pembicaraan loe tadi. Kalau gak salah tebak kamu ini seorang yang memliki ideologi socialis atau komunis!,” ucap Deni kembali sambil memasuk kan gumpalan mie ke dalam mulutnya.
“Ah gak juga..., tetapi gua memang simpatik sama Karl Maxs. Soal nya hati nurani gua suka tersentuh kalau mendengar perjuangan, penindasan, dan penderitaan rakyat. Tetapi gua lebih suka di sebut seorang Sosialis Sejati!,” jawab Darsono mencoba menjelaskan pertanyaan dari Deni.
“Oh..., sosialis sejati!,” ucap Deni mencoba memahami perkataan Darsono.
Mendengar Ucapan Deni tersebut, Darsono pun sudah tak sabar untuk mengeluarkan idealisme nya.
“Rakyat Indonesia saat ini banyak sekali di tipu dan di bohongi oleh penguasa. Mereka sengaja menggunakan uang rakyat bersenang-senang dan memperkaya diri. Hak–hak rakyat banyak di rampas oleh kebejatan kapitalisme, kehidupan rakyat sering di monopoli oleh oleh keserakahan dan kerakusan anjing-anjing kapitalisme. Uang rakyat banyak di gerogoti oleh tikus-tikus yang menikmati dana-dana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, hanya untuk kepentingan dan kekayaan pribadi!,” ucap Darsono yang orasinya sudah mulai berkoar-koar dari mulutnya.
“Oh begitu yah..., terus cara penyelesaian nya gimana tuh!,” tanya Deni untuk membangkit kan kembali, orasi bebas Darsono.
“Rakyat harus bersatu, Kita adakan revolusi. Kita rubah semua sistem yang bejad ini, dengan aturan ynag mengangkat kepentingan rakyat yaitu sama rata dan sama rasa. Sekali lagi kita satukan buruh dan petani, kita adakan revolusi rakyat!,” jawab Darsono dengan semangat yang berkobar-kobar.
“Tapi apakah itu bisa menyelesaikan masalah?!,” balas Deni kembali memancing, sambil memasukkan suapan terakhir dari Indomie nya.
“Kalau revolusi itu berhasil, maka rakyat pun akan mendapat haknya. Dan kehidupan rakyat pun akan lebih sejahtera!,” jawab Darsono kembali menjawab pertanyaan dari Deni.
“Itukan teorinya!,” ucap Deni menekan.
“Sekarang apakah anda bisa menjamin dalam peraktek nya akan sama. Masalah nya selama hidup gua..., gua belum pernah melihat dan menyaksikan teori-teori seperti yang loe katakan itu..., dalam kenyataan nya sesuai dengan yang di katakan. Bahkan dari beberapa contoh yang gua lihat, biasanya selalu berbeda antara teori dengan praktek bahkan beberapa ada yang bertolak belakang. Dan apabila itu terjadi, maka hal tersebut akan menjadi suatu bentuk penipuan baru terhadap rakyat!,” ucap Deni mencoba mengambil alih keadaan.
Darsono pun terdiam, memikirkan kata-kata yang baru keluar terucap dari mulut Deni.
Kemudian Deni pun memulai ucapan nya kembali.
“Sorry nih! Darsono..., bukan nya gua ingin menghentikan pembicaraan kita ini. Tetapi gua juga lagi buru-buru harus ketemu dengan teman-teman gua. Eh kebetulan..., kalau mau melanjutkan pembicaraan ini sekalian saja ikut gua ketemu teman–teman gua, entar di
sana
kita bisa bicara banyak tentang rakyat dan kehidupan!,” ucap Deni sambil bersiap-siap untuk berangkat.
“Boleh juga..., gua ikut!,” jawab Darsono setuju.
Kemudian Deni dan Darsono segera beranjak pergi dari kantin itu. Sambil mengucapkan salam terakhir pada si Ibu penjaga kantin, mereka pun buru-buru naik kendaraan transportasi kota. Menuju tempat yang di tuju yaitu warung kopi kang Daud.
***
Akhir nya Deni dan Darsono pun turun juga dari angkot alias angkutan kota. Tetapi mereka harus jalan kaki lagi, karena lokasi yang di tuju cukup jauh dari tempat pemberhentian terakhir. Walhasil mereka harus jalan lagi kurang lebih 500 meter.
Tapi jarak tidak membuat mereka berdua lelah dan malas, tetapi malah mereka semakin semangat untuk berdiskusi sambil jalan kaki.
“Kayak nya kita harus jalan kaki cukup jauh , agar sampai ke warung kopi tempat temen-temen gua ngumpul!,” ucap Deni memancing pembicaraan Darsono.
“Ah tidak apa-apa..., sebagai seorang sosialis sejati kita harus senang jalan kaki, agar bisa melihat realita dan mampu merasakan penderitaan rakyat!,” jawab Darsono dengan segala idealisme nya.
“Menurut loe seorang sosialis sejati itu membela orang–orang yang di timpa kemiskinan?,” ucap Deni menanyakan sesuatu pada Darsono.
“Jelas dong..., sebab munculnya seorang sosialis sejati itu dari kemiskinan, dari rakyat yang berada pada level terrendah. Karena itulah muncul gerakan rakyat bersatu, untuk menjatuhkan Penguasa yang serakah dan tidak adil!,” jawab Darsono dengan sangat yakin.
“Tetapi Dar..., Yang gua tau banyak sekali gerakan–gerakan yang mengatas namakan rakyat, atau ormas-ormas yang mengaku sosialis bahkan Komunis sekalipun. Belum pernah ada gerakan-gerakan mereka yang mengeluarkan program–program atau kegiatan-kegiatan yang di tujukan untuk membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin, misalnya program pemberantasan kemiskinan, membantu para pengemis atau lokalisasi anak-anak jalanan. Biasanya gerakan-gerakan mereka politis melulu, dan seperti nya rakyat miskin hanya di jadikan dalih untuk sebuah ambisi kekuasaan!,” ucap Deni kembali, yang merasa tidak puas dengan jawaban Darsono.
Darsono pun termenung diam memikir kan ucapan spontan dari dari Deni tersebut. Memang sih! Deni tuh orang nya santai, sok tau, dan sok imut. Tetapi walaupun begitu kalau soal memikirkan masalah rakyat, enggak kalah ngomong nya kayak politikus-poitikus di DPR. Dengan bahasanya yang sangat sederhana khas anak tongkrongan Daud, tetapi isinya DALEM......!!!.
Sambil mengepulkan asap rokok ke udara Darsono pun masih ter diam. Dan akhirnya dia pun mulai mengucapkan kata–kata.
“Memang sih..., kita ingin menjatuhkan kekuasaan Pemerintah pusat seolah–olah ingin menggantikan mereka semua di puncak kekuasaan. Tetapi semua itu demi kepentingan rakyat, untuk mengembalikan kesejahteraan rakyat yang selama ini di rampas oleh mereka!,” ucap Darsono ragu.
Dan ketika Deni akan menjawab dengan jawaban yang lebih hebat lagi dan lebih menggigit lagi, tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengucapkan sesuatu dengan keras dan menarik–narik baju Darsono dari belakang. Darsono pun kaget sekali sambil menoleh ke arah bajunya di tarik, ternyata ada seorang bocah kecil yang berpakaiaan lusuh dan kotor.
Bocah kecil itu pun berucap sesuatu.
“Om...minta uang, Om...saya belum makan dari pagi..., kasihani lah saya Om..., saya belum makan Om..., perut saya laper sekali Om!,” ucap Bocah kecil tersebut.
“Apa kamu bilang..., minta uang. Saya tidak punya uang..., pergi sana kamu!,” ucap Darsono emosi.
“Jangan Bohong Om..., Kasihani lah saya Om ..., saya belum makan Om !,” ucap Bocah kecil itu lagi.
“Loe..., gak ngerti ucapan gua..., Pergi sana !,” ucap Darsono marah.
Deni yang melihat Kejadian itu kemudian langsung ber inisiatif.
“Udah...Udah..., nih adik kecil..., Saya hanya punya lima ratus rupiah. Kalau kurang cukup maaf yah!,” ucap Deni spontan.
“Makasih yah kak..., Om ini pelit tidak punya perasaan!,” ucap Bocah kecil itu riang gembira, setelah menerima pemberian uang dari Deni.
Kemudian pengemis kecil itu pun pergi, sambil mencari belas kasihan dan kemurahan orang lain yang melewati jalan itu.
Akhirnya mereka berdua pun beranjak pergi untuk melanjutkan pejalanan yang tidak begitu jauh lagi.
“Dar..., loe lihat warung kecil di persimpangan jalan itu. Yang letaknya di bawah pohon rindang!,” ucap Deni berusaha mengalihkan perhatian.
“Yaaah..., gua lihat!,” jawab Darsono.
“Disitu lah gua dan teman-teman sering berkumpul bersama, sekedar meluangkan waktu di sela-sela kesibukan masing-masing!,” ucap Deni memberikan penjelasan.
“Oh gitu..., Enak juga tempat nya adem!,” ucap Darsono singkat.
“Tetapi gua masih bingung..., kenapa loe tadi memberi uang kepada pengemis kecil itu. Bukan kah itu tidak menyelesaikan masalah, malah membuat mereka terlena dan malas untuk berusaha!,” ucap Darsono mengungkapkan ketidaksetujuan nya.
Tetapi Deni menjawab dengan singkat.
“Bukan kah meminta-minta itu juga suatu usaha!,” ucap Deni dengan santai dan lugas.
Dan Darsono pun kembali diam dan berfikir.
Akhirnya tidak lama kemudian Darsono dan Deni pun telah sampai di tempat yang di tuju, Dan sampainya mereka di iringi dengan lantunan adzan yang mengaung dari Masjid besar yang letak nya tidak jauh dari warung kopi kang Daud, adzan tersebut menandakan waktu Ashar telah tiba.
Kedatangan mereka pun di sambut meriah oleh Gotapi, Ferly, Achongs, Jawa dan Kojay. Setelah mereka bersalam-salaman Gotapi pun mengucapkan sesuatu.
“Udah..., diskusinya kita selesaikan dulu sampai di sini. Sekarang kita sholat Ashar dulu...!,” ucap Gotapi menutup diskusi yang telah berlangsung di warung kopi kang Daud.
“Oh yah..., Deni dan temannya. Kita sholat Ashar dahulu agar fikiran kita tenang dan tentram!,” ucap Gotapi pada Deni dan Darsono.
“Ok! Gat..., Darsono kamu suka sembahyang kan ?,” tanya Deni pada Darsono.
“Suka sih..., kadang-kadang kalau inget!,” ucap Dar-sono polos.
“Ya udah kalau gitu..., jangan buang-buang waktu. Langsung saja kita berangkat!,” ucap Ferly kepada seluruh manusia yang ada warung kopi kang Daud.
“Siaaap....!,” ucap seluruh yang ada di sana
Akhirnya mereka pun bersama-sama beranjak menuju Masjid untuk menunaikan ibadah Sholat agar hati mereka menjadi tentram, dan bisa memulai diskusi yang amat sangat menarik dengan seorang komunis yang ber-Tuhan (Sosialis Sejati).
***
Akhirnya anak–anak tongkrongan Daud dan Darsono, telah selesai melaksanakan sholat Ashar dan mulai berkumpul lagi di warung kopi kang Daud. Fikiran mereka semua pun sudah tentram dan tenang, sehingga jauh sekali dari cara berfikir yang emosional, egois, subjektive dan mau menang sendiri. Tetapi semata–mata hanya untuk mencari solusi dari berbagai permasalahan yang ruwet dan rumit. Sehingga dapat mensejahterakan seluruh rakyat dan memberikan keadilan, tanpa ada seorang pun yang menderita dan di sakiti.
Dan beberapa anak tongkrongan Daud pun mulai memesan kopi, termasuk Gotapi.
“Kang Daud kopi nya satu..., Darsono kamu mau kopi gak!,” ucap Gotapi untuk mengakrab kan diri dengan orang yang baru di kenal nya.
“Boleh juga..., kebetulan lagi pengen ngopi nih!,” ucap Darsono menjawab pertanyaan Gotapi.
Kemudian Gotapi pun memesan kopi satu lagi untuk Darsono. Setelah itu kemudian Gotapi mengambil sebatang rokok dalam bungkusnya dan langsung membakar nya, tetapi Gotapi pun tidak lupa menawarkan nya kepada Darsono.
Darsono yang di tawari langsung ber reaksi untuk mengambil sebatang rokok dari dalam bungkus yang di tawarkan Gotapi.
“Waduh makasih..., memang rokok gue udah abis nih!,” ucap Darsono malu-malu mau.
Kemudian Dasono pun membakar dan mengepulkan asap rokoknya ke-udara. Dan di sela–sela kesibukan anak–anak yang lagi nongkrong di warung kang Daud, di antaranya ada yang sedang ngopi dan ngerokok, akhirnya diskusi pun di buka dengan ucapan Darsono yang provokatif kepada anak–anak tongkrongan Daud.
“Bangsa kita ini telah sampai pada kondisi yang sangat kritis. Sangat mengecewakan dan merobek segala bentuk tatanan kehidupan, yang menghasilkan sebuah penderitaan dan kesengsaraan. Hal ini sangat menyakitkan seluruh jiwa Bangsa Indonesia, kemelut ini di sebabkan oleh anjing-anjing kapitalisme, Birokrasi status quo dan kekuatan sebuah rezim yang menghancurkan pola pikir dan mental rakyat, dengan berbagai bentuk program-program pembodohan yang merusak akar budaya bangsa Indonesia. Dengan memunculkan budaya baru, yaitu Budaya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, sehingga menciptakan kesenjangan yang akhirnya rakyat lah yang mendapatkan ketidakadilan penderitaan dan kesengsaraan hidup. Susah makan, susah bekerja, susah sekolah, yang pasti susah mendapat kan kehidupan yang tenang, tentram dan bahagia. Dimana-mana yang mereka lihat dan mereka rasakan hanyalah penindasan-penindasan yang di lakukan oleh orang-orang yang tidak ber prikemanusiaan, terutama kaum buruh dan para petani. Apakah kita biarkan kehidupan seperti ini..., harusnya kita bangkit dan satukan rakyat, berantas abis semua tikus-tikus Birokrasi dan anjing-anjing Kapitalisme, mari kita adakan revolusi. Setuju...!,” ucap Darsono mengakhiri luapan intelektual sosialis dalam diri nya, dan tampa Darsono sadari ia baru menggebrak meja dan mengacungkan tangan nya ke atas layaknya Presiden pertama RI Sukarno, ketika ber pidato di podium.
Dan seluruh anak tongkrongan Daud pun pada be-ngong melihat kejadian tersebut, dari Gotapi sampai Kojay. Sampe-sampe kang Daud pun melongo melihat orasi Darsono yang tiba-tiba itu. Dan setelah itu suasana pun menjadi sunyi senyap tanpa ada suara dan kata-kata yang terdengar, hanya suara hilir mudik angkot-angkot di luar sana.
Akhirnya ada suara yang muncul dari pojok sana.
“Darsono..., elo kenapa?!,” tanya Achongs bingung.
Kemudian disambung lagi oleh Ferly.
“Darsono kamu kesurupan Jin dari mana...?!,” tanya Ferly dengan pandangan cemas melihat sosok Darsono.
Dan Jawax pun ikutan nimbrung meramaikan.
“Darsono kamu sakit yah..., coba sini gua pegang kepala loe. Kayaknya loe demam!,” nyambung ucapan Jawax yang bikin Darsono keki dan juga salah tingkah.
Memanng sih anak-anak tongkrongan Daud biasanya suka ngerjain orang-orang yang cuma bisa ber retorika tampa bukti yang jelas. Jadi maklum saja kalau mereka suka ngebecandain orang-orang yang suka so serius, tapi yang dia bicarakan tidak menyentuh subtansi permasalahan yang sebenarnya.
Dan Akhirnya kojay yang dari tadi belum ngomong ikutan juga ngomong, dan kali ini ngomong nya agak nyambung-nyambung dikit.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tau-taunya Kojay tepuk tangan sendiri sambil berucap.
“Pok...Pok...Pok!,” suara tepukan Kojay.
“Wah gila hebat...hebat loe pidatonya, Tapi sorry tadi ngomong apa...?, coba di ulangi. Soal nya loe ngomongnya kecepetan!,” ucap Kojay tanpa merasa dosa sedikit pun.
Tapi Deni yang merasa tidak enak, karena temannya di perlakukan seperti itu mencoba membela.
“Jay..., kenapa sih loe. Suara jelas gitu tidak kedengaran, dasar budek!,” ucap Deni sewot kepada Kojay.
“Oh iya..., gua tau...?, anjing-anjing Kapitalisme kan!,” jawab Kojay dengan pasti.
Darsono pun mengangguk dengan wajah yang BT.
“Tapi Dar..., emang nya ada apa dengan anjing-anjing kapitalisme, Kabur dari rumahnya yah..., atau gua tau...?!, anjingnya ngegigit loe yah!,” ungkap Kojay makin gak nyambung.
Anak-anak tongkrongan Daud pun tertawa, cuma si Deni yang rada-rada sewot.
Sambil marah dia beucap pada Kojay.
“Sini loe gua sumpel pake sepatu gua..., sekalian sama kaos kakinya yang udah satu bulan kagak di cuci!,” ucap Deni sambil melepas landas kan sepatu beserta kaos kaki nya, ke arah target yang telah di tentukan. Yaitu “Wajah Kojay”.
Dan kojay pun segera melesat keluar kedai kopi, untuk menghindari sepatu dan kaos kaki yang melesat ke arahnya. Dan akhirnya terjadilah kejar-kejaran di tengah jalan lalu lintas kota, antara Kojay, Deni, dengan sepatu dan kaos kaki nya yang bau itu.
Achongs dan Jawax pun cuma bisa menggebrak meja sambil teriak, “Orang gila...(Dug dug dug!), Orang gila...(Dug dug dug!), Orang gila...(Dug dug dug!),”. Di tengah tengah kepadatan hiruk pikuk kota, tukang parkir, tukang somay, pengamen, pengemis dan orang-orang yang berhalu lalang di sekitar trotoar. Cuma pada bengong, di sangka nya sedang ada demonstrasi sepatu dan kaos kaki sebagai senjata untuk membuat orang takut dan kabur.
***
Di tengah-tengah situasi yang membungungkan di tambah lagi pengejaran Kojay yang masih terus berlangsung, akhirnya Gotapi pun angkat bicara.
“Saya tadi mendengarkan dari awal semua orasi yang anda bicarakan. Tetapi ada hal-hal yang harus kita bicarakan dengan jelas, factual dan empiris!,” ucap Gotapi dengan ungkapan yang cukup dewasa, tidak seperti anak-anak yang lain.
Dan akhirnya kekecewaan Darsono pun sedikit terobati, dengan sikap yang tercermin dari Gotapi.
“Yang Saudara Gotapi maksud yang mana?!,” balas Darsono dengan nuansa intelektual idealisme sosialisme nya.
Gotapi pun menanggapi pertanyaan Darsono.
“Baiklah..., yang pertama. Untuk menyelesaikan permasalahan di Negeri ini, tidak se mudah membalikkan tangan. Apalagi dengan cara revolusi, dan gua adalah termasuk orang yang percaya bahwa perubahan itu hanya akan terjadi secara bertahap, atau evolusi. Dan bagi gua revolusi merupakan titik puncak dari berpuluh–puluh proses evolusi yang terjadi. Artinya suatu perubahan hanya akan ter jadi melalui proses evolusi yang terjadi tampa henti dan terus menerus!,” ucap Gotapi mengeluarkan sedikit pemahaman intelektual nya, untuk memancing kedalaman intelektual sosislisme Darsono.
Darsono pun angkat bicara dengan semangat dan penuh keyakinan, untuk menaggapi pemahaman dari Gotapi.
“Ok! jadi begini..., sehu gua Karl Max penah bersabda. Manusia itu bakal berubah dengan dua hal, pertama karena materi, dan yang kedua karena niat. Ini ngejelasin untuk merubah manusia–manusia atau pun sebuah Bangsa, kita harus menguasai materi, dan cara untuk menguasai materi yaitu kita harus menghancurkan dahulu Rezim yang berlaku di dalam sebuah Bangsa. Dan untuk menghancurkan sebuah Rezim, satu–satu nya cara yaitu dengan menyatukan rakyat lalu kemudian kita adakan revolusi!,” ungkap Darsono dengan bahasa yang lugas dan jelas.
Tetapi Gotapi tidak mau kalah.
“Itu kan teori...., sedangkan kenyataannya tidak segampang ucapan kata-kata, bahkan dalam praktek nya gerakan–gerakan sosialisme saat ini justru sering bertentangan dengan nilai–nilai yang mereka perjuangkan. Seperti, nilai keadilan dan nilai kemanusiaan, dan contoh nya banyak terlihat dari setiap aksi-aksi mereka saat ini, bahkan yang terjadi cenderung mengarah pada pemaksaan kehendak dan anarki.
Trus..., ada hal-hal yang harus anda pahami di dalam sebuah perubahan, yaitu apakah perubahan yang akan kita lakukan ini dalam kenyataannya akan membawa kebaikan atau progresif, membuat ketenangan hidup makin terjamin. Atau justru merusak, bahkan menghancurkan. Ini harus di evaluasi mulai dari sekarang, minimal jangan pernah sekali-sekali mengorban kan rakyat di dalam perubahan yang akan kita lakukan. Bila itu terjadi lebih baik sekarang kita hentikan perubahan itu, karena hanya akan membawa penderitaan-penderitaan baru yang berkelanjutan dan berlangsung lama!,” ucap Gotapi memberikan sanggahan terhadap provokasi Darsono.
Sementara Darsono dan Gotapi sedang diskusi, di ujung jalan sebelah kiri mereka ada sesosok laki-laki yang terengah-engah. Kemudian laki-laki tersebut berhenti di samping kedai kopi kang Daud dan langsung duduk terlentang di tembok trotoar badan jalan lalu lintas kota. Ternyata sosok tersebut adalah Kojay yang baru selesai joging di siang hari.
Sambil nafas nya ngos-ngosan ia pun berkata.
“Ampun... Sumpah ampun..., gilaa...capek banget!. Kang Daud minta air dong! badan gua udah gak kuat lagi... Kayak mau mati..., Pokok nya bodo amat mau di sumpelin kaos kaki yang enggak di cuci satu tahun kek. Pokok nya yang penting gua bisa minum..., kang Daud cepetan air nya. Tenggorokan saya udah kering nih...!,” ucap Kojay maki-maki sendiri gak karuan, di trotoar jalan kayak anak kecil.
Dan beberapa detik kemudian datang si Deni yang ikutan berterlentang ria di trotoar jalan, sambil memegang benda pusaka nya yaitu sepatu dan kaos kaki bau. Dia juga gak kalah ngos-ngosan kecapean kayak si Kojay.
Kemudian Deni pun ber ucap.
“Jay...Loe...Larinya...Cepet banget...kayak...Maling aja...!, padahal kecepatan gua 60 kilo meter perjam loe..., loe belajar maraton di mana...?. Gila..., badan gua capek banget sampe gak bisa gerak. Kang Daud bikin minum buat saya juga. Dong!,” ucap Deni yang ngomongnya gak beraturan.
“kalau gitu bagus dong..., jadi loe enggak perlu nyumpel gua pake kaos kaki bau!,” balas Kojay dengan bangga dan bahagia.
“Baik..., kali ini gua maaf kan. Besok-besok jangan di ulangi lagi, kalau loe ulangin lagi entar gua bawain kaos kaki kakek gua yang udah seratus tahun kagak di cuci..., biar mampus mampus loe!,” ucap Deni mahasiswa Hukum yang ngomong nya enggak pernah di fikir dulu.
“Iya deh..., gua janji. Masalah nya gue paling anti banget yang nama nya makan kaos kaki bau, lebih baik gua makan di lestoran Bintang Lima dari pada dari pada makan kaos kaki. Sumpah!,” ucap dengan amat sangat meyakinkan.
Dan tidak lama kemudian kang Daud pun datang membawa air yang mereka minta.
“Udah! jangan ribut terus..., sekarang minun dulu. Coba lihat badan kalian berdua pada mandi keringat!,” ucap kang Daud sambil menyodorkan air minum.
Dan mereka berdua pun menyambut air minum tersebut dengan suka ria dan bahagia, seakan-akan udah sebulan enggak ketemu air.
Dan anak-anak tongkrongan Daud pun pada melongo memperhatikan ke dua anak ajaib itu. Termasuk Darsono dan Gotapi, sampai-sampai mereka lupa bahwa sebenarnya mereka sedang diskusi.
Angin pun berhembus dengan sepoi-sepoi di warung kopi kang Daud. Langit pun mulai redup menandakan matahari mulai ternggelam. Jarum jam pun mulai bergeser ke angka empat. Akhir nya diskusi di lanjutkan.
“Oh iya..., Pembicaraan kita tadi sampai di mana?,” ucap Darsono sambil ber fikir.
“Oh..., gua inget. Tadi sampai loe ngomong bahwa perubahan harus membawa kebaikan bagi rakyat. Betul gak!,” ucap Darsono yakin.
“Yah betul..., terus menurut pendapat loe gimana?,” ucap Gotapi tenang.
“Gua setuju..., tetapi apakah kita akan membiarkan para Birokrat menggerogoti uang rakyat, kemudian kita hanya diam saja. Bukan nya kita harus menumpas habis segala bentuk penghianatan terhadap rakyat, janji-janji palsu yang akan menghancurkan Bangsa ini. Walaupun rakyat menjadi korban asal kan masa depan Bangsa menjadi lebih baik dan lebih sejahtera, saya kira tidak apa-apa!,” balas Darsono menanggapi pertanyaan Gotapi.
“Saya kira tidak seperti itu!”, ungkap Gotapi me-nyangkal.
“Kalau kita berbicara tentang para pejabat yang korupsi, ada wacana tersendiri yang harus Saudara Darsono pahami. Sekarang coba jawab pertanyaan saya..., apakah saudara menyukai uang?, dan yang kedua apakah saudara Darsono menyukai kekuasaan?, atau justru uang dan kekuasaan telah dijadikan tujuan hidup Saudara...?!,” ucap Gotapi serius.
“Yah..., saya memang suka uang dan kekuasaan karena saya memang membutuhkan nya!,” jawab Darsono santai.
“Kalau Saudara Darsono sangat menyukai uang dan kekuasaan, atau masih menjadikan uang sebagai tujuan hidup atau titik puncak dari segala-galanya..., Gua yakin seandai nya loe jadi “Pejabat”. Loe pasti akan korupsi...!,” ucap Gotapi dengan expresi yang meyakinkan.
Darsono pun langsung terdiam sambil merenungi apa yang baru di ucapkan Gotapi. Di lain sisi Deni dan Kojay pun sudah nimbrung kembali di warung kang Daud untuk menyimak diskusi antara Darsono dan Gotapi.
Kemudian Gotapi melanjutkan kata-kata nya.
“Kalau kehidupan manusia di Dunia ini masih di kendali kan oleh hawa nafsu untuk mencari dan mendapat kan uang sebanyak-banyak nya, maka selama itu pula korupsi masih akan terjadi dan ada di Dunia ini. Karena itu gerakan sosialis sejati bukan hanya..., memikirkan bagaimana menjatuhkan Pemerintahan yang korup, sedang kan ketika mereka jatuh kita yang menggantikan masih akan melakukan perbuatan yang sama, walaupun kita tidak mengakui, tetapi hawa nafsu yang ada di dalam diri kita masih berusaha untuk mencari akal untuk membohongi dan menipu rakyat. Dan akhirnya diri kita pun akan lupa terhadap rakyat miskin yang selama ini telah kita perjuang kan karena sibuk untuk memperkaya diri..., Oleh sebab itu saya amat tidak setuju apabila pejuangan sosialis hanya berorientasi kepada sebuah “Ambisi Kekuasaan”. Alangkah lebih baik apabila kita melakukan tindakan yang rill dan nyata, pada rakyat-rakyat yang menderita dan kelaparan!,” ucap Gotapi dengan jelas dan berwibawa.
Suasana pun menjadi hening dan senyap, karena telah terjadi perenungan yang mendalam bagi Darsono. Sebab baru kali ini ada orang seperti Gotapi yang mengatakan hal–hal seperti itu, suatu ungkapan yang sangat sederhana dan mendalam.
Kemudian Darsono pun masih ingin berucap.
“Maksud tindakan yang rill dan nyata seperti apa?,” ucap Darsono bertanya pada Gotapi.
Dan Deni yag ikut nimbrung dari tadi ikut mengungkapkan pendapat nya.
“Maksud nya gini Dar...!,” ucap Deni.
“Contoh nya waktu tadi kita bertemu dengan anak jalanan yang minta-minta uang, karena belum makan. Kenapa...? Gua tadi memberi pengemis kecil tersebut uang tampa harus memberi dia suatu pekerjaan..., tetapi bagi gua itu merupakan sebuah tindakan yang rill dan nyata bagi seorang sosialis sejati. Dan juga minta-minta menurut gua..., merupakan sebuah usaha yang tidak gampang, coba loe bayangin bagaimana rasanya kita menahan rasa malu..., memberanikan diri kita menjadi hina, dengan menadah kan tangan hanya untuk meminta sedikit uang, hanya agar dapat menyambung hidup. Walaupun dia harus mendapat makian dan cacian orang lain, bukan kah itu suatu hal yang tidak mudah untuk kita lakukan bahkan sangat berat!,” ucap Deni dengan semangat yang menggebu-gebu.
“Bagaimana betul kan kawan-kawan ucapan saya ini!,” ucap Deni mencari dukungan.
Trus Gotapi pun menaggapi.
“Betul..., omongan Deni ada benernya juga!,” ucap Gotapi kemudian melanjutkan omongannya.
“ Jadi lebih jelas nya gini Dar..., pernah gak loe tidak makan. Sehari saja...?!” tanya Gotapi pada Darso-no.
“Penah !,” jawab Darsono.
“Apa yag loe rasakan..., Penderitaan seperti apa yang loe rasakan?!,” tanya Gotapi lagi dengan tenang.
“Menderita banget..., perut kosong, badan lemes, otak pusing!,” ucap Darsono.
“Kalau loe puasa, mungkin loe masih punya harapan bahwa entar magrib bakalan buka..., sedangkan mereka–mereka para pengemis. anak jalanan, gembel-gembel belum tentu. Selain kelaparan mereka juga tidak tau apakah hari ini mereka bisa makan?, apakah hari ini mereka mendapat tempat tinggal untuk ber naung?, bahkan tempat tinggal pun beberapa ada yang tidak punya?. Nah! disini lah landasan awal perjuangan seorang sosialis sejati, yaitu bagaimana kita berjuang untuk orang-orang kelaparan, yang penuh dengan penderitaan dan kehinaan. Sekarang coba fikir kalau kita hanya memperjuangkan buruh dan petani, padahal mereka tidak sehina kaum yang kelaparan, bukan kah mereka masih dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya walaupun pas-pasan, setidak nya masih makan, walaupun di satu sisi mereka tidak mendapatkan keadilan. Tetapi kalau masih ada orang-orang yang lebih tidak mendapat keadilan dari buruh dan petani, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sulit. Kenapa kita tidak lebih mengutamakan para rakyat yang tidak makan, dari pada rakyat lain yang relative bisa mempertahankan kehidupan nya sendiri. Karena itu perjuangan sosialis sejati bukan perjuangan memperoleh atau menjatuh kan kekuasaan, tetapi perjuangan bagaimana kita dapat membangkit kan kehidupan dan kesejahteraan orang-orang yang kelaparan!,” ucapan Gotapi bagaikan kata-kata suci Nabi dari Surga yang turun ke Bumi, untuk mengangkat umat manusia dari keterpurukan dan kehinaan menuju pada kemuliaan dan kebahagiaan.
Lantunan nurani dalam jiwa menunduk menangis, menyesali segala perbuatan dan kesesatan idealisme yang menurunkan diri pada derajat kehinaan dan nafsu yang menghianati cahaya jiwa.
Tampa Darsono sadari air mata pun menetes setelah mendengarkan ucapan Gotapi. Di tambah lagi ia baru saja berbuat kesalahan terhadap sesuatu hal yang seharus nya ia perjuangkan sebenarnya, yaitu rakyat yang kelaparan.
Kemudian Darsono pun mengucapkan sesuatu pada Deni.
“Den.., kira-kira anak kecil tadi masih ada gak!,” tanya Darsono sangat cemas.
“Ada..., biasanya dia ada di perempatan jalan, di ujung sana!,” ucap Deni.
“Anterin gua yuk..., gua ada perlu nih!,” ucap Darsono terburu–buru.
Kemudian Gotapi pun berucap.
“Kita semua bakalan nganterin kamu!,” ucap Gotapi sambil tersenyum.
“Makasih Got...!,” ucap Darsono ter haru.
Akhirnya mereka pun bersama-sama mencari pengemis jalanan tersebut di perempatan jalan tidak jauh dari warung kopi kang Daud. Walaupun hanya warung kopi yang tidak berarti, tetapi tempat itu merupakan tempat dimana Darsono menemukan pencerahan, dan itu sangat berkesan serta memiliki wacana tersendiri dalam hidupnya.
Angin pun bertiup seperti biasanya. Langit pun mulai gelap dan sebentar lagi azan Magrib pun akan ber bunyi, menandakan siang kan ber ganti gelap. Tetapi di perempatan jalan tidak jauh dari warung kopi kang Daud, ada suatu fenomena yang menarik dan amat sangat jarang terjadi di Dunia ini, yaitu seorang sosialis sejati yang memeluk pengemis kecil sambil menangis, karena merasa bersalah telah menyia-nyiakan kehidupan yang seharus nya di perjuangkan.
Sambil menangis Darsono pun berucap.
“Maaf kan saya Dik...!,” ucap Darsono lembut.
“Kakak kenapa!,” ucap si Adik kecil.
“Tidak apa-apa..., maafkan Kakak yah..., tadi marah-marah waktu Adik meminta uang!,” ucap Darsono langsung dari lubuk hati nya yang paling dalam.
“Tidak apa-apa Kak..., bagi Adik di maki-maki saat meminta uang merupakan resiko hidup yang harus di jalanin, walaupun perih!,” jawab pengemis kecil tersebut dengan ucapan yang matang dan dewasa.
“Ya udah..., sebagai permintaan maaf dari Kakak ini ada sedikit rezeki buat Adik, walaupun tidak besar tapi tolong di terima yah...!,” ucap Darsono sambil mengulurkan selembar kertas uang Rp 20.000 kemudian langsung di masuk kan ke dalam kantong celana pengemis kecil tersebut.
“Aduh..., makasih Kak..., sebenernya Kakak ini orang nya baik. Tetapi terkadang suka lupa, saat perut Kakak terisi penuh dan pakaian Kakak bagus, tebal dan hangat. Kakak lupa bahwa di sekitar Kakak terdapat orang-orang yang kelaparan, dekil dan sangat kedinginan!,” ucap lembut seorang Pengemis kecil yang sangat sabar dengan kehidupan nya.
Dan saat itu pula tangisan Darsono pun menjadi-jadi, anak-anak tongkrongan Daud yang melihat kejadian tragis itu secara nyata dan faktual ikut terharu. Sebab mereka pun belum tentu biasa seperti Darsono, berjuang dengan pikiran dan jiwa nya hanya untuk kepentingan rakyat miskin. Walaupun harus berkorban nyawa dan darah.
Selang beberapa waktu setelah itu, angin pun mulai berhembus semakin kencang. Suasana alam pun mulai menyelubungi seluruh alam semesta, mencekam tapi di penuhi oleh hanyutan sangsaka nurani yang telah menembus kalbu jiwa, dan menepis segala kegalauwan beserta asa.
Anak-anak tongkrongan Daud dan Darsono pun bergegas kembali menuju warung kopi kang Daud. Menyusuri trotoar, yang panjang dan sepi.
“Darsono kamu diam saja dari tadi..., emang nya masih ada hal yang loe pikirin!,” tanya Gotapi pada Darsono yang terdiam.
“Enggak..., Cuma masih ada hal yang mengganjal di hati gue. Sekarang gua berjuang untuk mereka-mereka yang kelaparan, tetapi para pejabat yang menggerogoti duit rakyat tetap saja susah di berantas. Nah..., sekarang gua lagi mikirin gimana cara dan strategi buat ngebantai para penghianat Bangsa!,” ucap Darsono tegas.
Gotapi pun mencoba menjelaskan dan memberikan beberapa solusi.
“Dasar nya gini Darsono..., kalau seluruh Pejabat dan para Wakil Rakyat di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah memiliki kesadaran untuk memberikan sebagian harta nya untuk membantu dan menolong rakyat kecil, miskin dan kelaparan. Di tambah lagi orang-orang kaya di Negeri ini seperti para konglomerat dan para pengusaha, ikut berpartisipasi. Gua yakin jumlah orang miskin di Indonesia ini pasti tinggal sedikit. Karena itu yang kita lakukan bukan lah memaki atau menghina seseorang atau sebuah sistem, tetapi bagaimana kita menumbuh kan kesadaran dan rasa cinta dalam diri orang-orang yang memilki harta lebih untuk membantu orang miskin dan kelaparan, itu yang pertama.
Yang kedua, kalau loe mau berjuang..., lebih baik loe berjuang di dalam sistem bukan di luar sistem. Salah satu cara yang kita bisa lakukan adalah, adanya nilai-nilai idealis di dalam Dasar Negara kita yang subtansinya sama sekali tidak ter implementasi di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Contoh nya pasal 34 UUD’45 menyebutkan, ”Fakir miskin dan anak-anak yatim di pelihara oleh Negara”. Kenyataan nya jangan kan fakir miskin dan anak-anak yatim seperti para Pengemis, Anak-anak Jalanan, dan orang-orang yang tinggal di daerah-daerah kumuh lain nya. Pedagang kaki lima saja yang ingin berdagang, untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saja di bantai sama pemerintah bahkan daga-ngan dan gerobak mereka di hancurkan.
Bukan kah ini merupakan suatu pnyelewengan dari nilai-nilai Dasar Negara atau suatu bentuk dari penghianatan dari pelaksanaan dari UUD’45. Sistem nya tidak salah, tapi orang-orang yang memegang dan menjalankan sistem tersebut lah yang tidak bener, sistem hanya lah “alat”. Walaupun alat nya se canggih dan se hebat apa pun, tetapi kalau orang-orang yang memegangnya bodoh, tolol dan seenak nya, Tetap saja alat tersebut tidak bisa di gunakan bahkan cenderung di pergunakan se enak nya, tanpa tau itu benar atau salah, tanpa tau itu menolong atau menghancurkan. Karena itu yang harus di lakukan sekarang adalah, coba loe kumpulin massa sosialis loe, baik dari kalangan dan golongan apapun. Terus pimpin Demonstrasi, tekan pemerintah untuk merealisasikan pelaksanaan pasal 34 UUD’45. Mungkin itu lebih baik karena yang loe perjuangkan adalah orang-orang yang kelaparan, yang miskin dan terhinakan. Dan inget pesan gua, jangan berjuang dengan nafsu dan sebuah “Ambisi Kekuasaan”. Jangan cuma bisa memaki dan menghina sebuah sistem tetapi berikan lah pema-haman dan penyadaran bagi orang-orang yang memegang sistem tersebut. Tetapi kita juga harus mengecam segala kesewenang-wenangan dan ketidakadilan Penguasa. Kemudian fungsikan UUD’45 untuk kepentingan rakyat terutama rakyat yang miskin dan kelaparan. Perjuangkan konsep kejujuran, keadilan, persamaaan dan kebenaran. Dan satu lagi yang terpenting berjuang lah untuk rakyat, non kelompok, non golongan dan juga non idiologi. Tetapi cukup satu, “Berjuang untuk orang-orang yang kelaparan”. Oke!,” ucap Gotapi dengan penjelasan yang cukup panjang, jelas, dan mendalam.
“Oke..., sekarang gua ngerti apa yang harus gua lakukan!,” ucap Darsono dengan mata yang ber kaca-kaca.
“Sukur deh..., kalau begitu. Sekarang gua baru percaya bahwa elo bener-bener seorang sosialis sejati, pokoknya entar apa pun yang elo lakukan esok hari untuk rakyat, gua pasti mendukung!,” ucap Deni dengan penuh kebanggaan pada temannya itu.
Gema azan pun mulai terdengar menghiasi suasana gemerlap kehidupan kota, Magrib itu. Kelap-kelip cahaya lampu pun mulai menerangi suasana kota di sekitar tongkrongan Daud. Anak-anak tongkrongan Daud pun bergegas menuju Masjid Raya yang berada di sekitar wilayah tempat anak-anak tongkrongan Daud beroprasi, mengarungi gemerlap nya malam dengan pemikiran-pemikiran dan ide-idenya untuk memperbaiki kehidupan Bangsa Negara Indonesia yang tercinta.
No comments:
Post a Comment